Nastar: Kudapan Dari Zaman Kolonial Hingga Zaman Milenial

Halo guys, sebentar lagi mau lebaran nih, apa saja yang sudah kalian siapkan untuk menyambut idul fitri? Pakaian baru dan sepatu barunya sudah, suguhan pada saat lebaran sudah juga belum? Tradisi saling mengunjungi saat lebaran masih kental dalam budaya masyarakat Indonesia, tentunya sebagai tuan rumah yang baik ingin menyajikan jamuan terbaiknya. Selain makanan berat seperti ketupat, buras, opor ayam, hingga sambal ati, kudapan-kudapan ringan seperti minuman berperasa serta kue-kue kering juga menjadi suguhan khas lebaran. Ada banyak jenis kue khas lebaran, seperti putri salju, kue rambutan, biji kurma, kastangel hingga nastar. 

Games To Free Play Without Download For Mobile

Kehadiran nastar pada acara-acara besar seperti lebaran sepertinya tidak pernah absen ya, guys! Di rumah kalian bahkan di rumah tetangga-tetangga yang turut  merayakan idul fitri pun, saat berkunjung pasti disuguhi dengan  kue kering yang satu ini. Rasa nastar yang asam manis juga teksturnya yang renyah di luar dan legit di dalam menjadikannya primadona.

Karena Mereka Percaya Bahwa Cara Terbaik Untuk Bermain

Sejarah Kemunculan Nastar

Kemunculan kue nastar di Indonesia dikenalkan oleh bangsa Belanda pada masa kolonial. Kata nastar sendiri juga berasal dari bahasa Belanda yaitu ananas dan taart, yang kemudian disingkat nastar. Bangsa Belanda yang terbiasa mengomsumsi pie dengan topping buah-buahan dengan  rasa asam manis seperti apel dan bluberi di negaranya, kemudian mencoba membuat pie dengan rasa yang sama, namun karena buah-buahan tersebut sulit ditemukan di Indonesia pada saat itu, nanas lah yang digunakan sebagai penggantinya. Selain karena buah nanas melimpah di Indonesia, rasanya yang juga asam manis dirasa mirip oleh orang Belanda dengan pie buah yang biasa dikomsumsi di negaranya. Agar lebih mudah dimakan, dibuatlah nastar dengan bentuk kecil-kecil.

Alasan Yang Perlu Anda Ketahui Saat Kita Berada Di Ambang

Zaman dulu, nastar hanya disuguhkan pada acara-acara tertentu dan hanya orang-orang penting dan orang yang berasal dari kalangan bangsawan saja yang bisa memakannya. Topping nastar pada masa itu juga menjadi penanda strata dan status sosial seseorang. Semakin mahal bahan yang dijadikan topping nastar, semakin tinggi pula strata dan status sosialnya. Bila seseorang menyajikan nastar dengan topping cengkih di atasnya pada masa itu, dipastikan kelas strata atau status sosialnya tinggi, karena cengkih dimasa itu merupakan rempah dengan nilai jual yang paling mahal.

Seiring perkembangan zaman, resep kue ini mulai menyebar. Hingga kini, kue kering ini dapat dinikmati oleh seluruh kalangan dan tetap menjadi kudapan ringan yang biasa dinikmati di perayaan-perayaan besar.

Makana Kue Nastar Bagi Masyarakat Tionghoa

Tidak hanya pada saat lebaran, nastar juga menjadi suguhan khas pada hari natal, tahun baru dan juga imlek. Bahkan, pada perayaan imlek, kue ini memiliki makna yang cukup dalam. Bagi masyarakat Tionghoa, nastar dengan warnanya yang kuning keemasan melambangkan keberuntungan. Nastar juga disebut ong lai (buah pir emas) di dalam bahasa Hokian. Tidak lah mengherankan jika nastar menjadi suguhan khas tahun baru Cina, yang memang identik dengan warna merah dan emasnya.

Keunikan rasa dari nastar membuat kue kering yang satu ini tetap eksis dari zaman kolonial hingga sekarang, di generasi milenial. Seiring waktu beragam inovasi dari kue nastar  terus berkembang dan variatif, mulai dari bentuknya sampai isian selainya yang bermacam-macam. Namun, rasa original nastar dengan selai nanasnya yang memilki rasa asam manis yang khas tetap tidak tergantikan.